Berbagai Karakter Pebisnis, Anda Termasuk yang Mana?

Sebuah bisnis atau usaha yang baik atau tidak, sukses atau bangkrut, bisa dilihat dari pemimpin bisnis tersebut. Lebih dalam lagi karakter bisnis bisa terlihat dari karakter si pemiliki bisnis.

Saya punya pengalaman membangun sebuah usaha, dan alhamdulillah sudah beberapa kali investasi bangkrut, beberapa kali dijalankan bangkrut. Kadang saya mencari kambing hitam penyebab bangkrutnya bisnis, menyalahkan orang lain, menyalahkan siapapun yang terlibat dalam bisnis yang saya jalankan. Bahkan sampai menyalahkan takdir, kenapa harus begini dan begitu. Saking stress nya.

Dengan menyalahkan orang lain berharap ada perubahan tapi nyatanya tidak! dan alhamdulillah Tuhan masih memberikan cinta-Nya kepada saya yang bodoh ini. Ketika semua hilang, entah itu partner kerja, pelanggan, bahkan alat penunjang bisnis habis, barulah saya menyadari dan menunjuk kepada diri sendiri, bahwa saya-lah penyebab semuanya gagal dan bangkrut!.

Mau bagaimana lagi, kita butuh jujur dan berani untuk menyalahkan diri sendiri bahwa mobil akan masuk jurang sendirinya bila si pengemudi belum memiliki keahlian. Ya, saya melihat karakter saya sebagai pemimpin bisnis masih belum memenuhi kriteria, namun dengan kejadian tersebut, tetap saja yang namanya takdir apapun tetap baik bagi orang yang beriman seperti pada artikel sebelumnya kita bahas, yakni orang beriman itu percaya baik buruknya takdir, selama itu dari Allah pasti dampaknya baik untuk kita.

Dan apabila takdir buruk itu terjadi karena kesalahan kita, segera perbaiki, karena sebaik-baik kesalahan adalah yang segera memperbaikinya.

Dengan muhasabah diri, bangkrutnya bisnis yang saya alami ternyata ada 3 hal:

  1. Karakter pemimpin yang salah

Rosulullah shollu ‘alaihi contohnya, beliau sebelum berbisnis, sebelum menjadi pemimpin besar, membangun karakter terlebih dahulu. Anda tentu mengenal dengan karakter beliau yang sampai dipuji oleh Allah, sebagai manusia yang punya budi pekerti yang mulia. Atau bisa kita sebut shiddiq, tablig, amanah dan fathonah.

Sayangnya, kita sebagai umatnya justru sok-sok an jadi pemimpin tanpa memiliki karakter tersebut. Walaupun tidak sesempurna Rosulullah shollu ‘alaihi, setidaknya adalah sedikit-sedikit.

a. Jujur dalam bisnis

Qulil haq walaukaana muroon, katakan yang jujur walau itu pahit dan menyakitkan. Ketidak jujuran terhadap karyawan , terhadap partner bisnis, adalah penyebab kehancuran usaha. Dan hukumnya pasti hancur! kebohongan demi kebohongan yang dipendam, ibarat kita mengumpukan bom waktu, tinggal menunggu bom itu meledak sedahsyat-dahsyatnya.

Oleh karena itu, jujurlah diawal, agar kesalahannya sesegera mungkin diperbaiki. InsyaAllah, pemimpin yang memiliki kejujuran berarti memiliki integritas yang mulia. Dengan jujur, pasti bisnis akan sukses, dan terhindar dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

b. Menyampaikan dengan tegas yang benar itu benar dan yang salah itu salah

Banyak pemimpin bisnis yang merasa kasihan terhadap karyawannya mungkin ketika berbuat kesalahan. Sebenarnya jika perlu hilangkan SP 1, SP 2, SP 3 jika ada karyawan yang melanggar. Cukup segera ditegasi dan diberikan solusi untuk membenahi kinerjanya, tegaslah. Karena ketidak-tegasan menyampaikan kebaikan sama halnya dengan kita memeilihara keburukan.

Jangan kasihan melihat karyawan yang berbuat salah walaupun itu kecil, langsung berikan ketegasan. Dan pasti karyawan tersebut positifnya kaan memiliki karakter yang hebat seperti pemimpinnya. Bukankah kumpulan singa bila dipimpin oleh seekor kambing bakal mengembik semua, berbeda halnya segerombolan kambing jika dipimpin oleh singa, semua kambing bakal mengaum dengan lantang.

Bangun karakter pada karyawan, katakan pada mereka, bahwa mereka adalah calon pemimpin juga, bukan terus terusan jadi karyawan, harus berani keluar! berani memimpin.

c. Menjalankan tugas sebaik mungkin

Setiap waktu adalah amanah dari Yang Maha Kuasa. begitu juga setiap pekerjaan adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan sebaik mungkin. Amanah pada karyawan, memberikan hak-haknya sebelum keringat mereka habis. Dan amanah terhadap janji-janji pada pelanggan untuk tepat waktu menyelesaikan dan memberikan kualitas yang terbaik.

d. Menjadi pemimpin yang cerdan dan bermartabat

Apa jadinya jadi pemimpin tapi bodoh, mudah dipengaruhi orang lain, tidak konsisten dengan apa yang telah ia rencanakan sebelumnya. Jangan jadi bodoh, agar kita tidak dibodohi. Apalagi tidak semua orang yang terlibat dibisnis kita adalah orang yang baik, tentu ada yang tidak baik sebagai cara Tuhan memberikan ujian kepada kita.

Yang terpenting, cerdas lah namun diimbangi dengan akhlak yang mulia. Cerdas tanpa akhlak, akan menjadi penipu yang ulung, akan menjadi koruptor yang ulung. Cerdaslah tapi bermartabat.

Alhamdulillah, sebelum kita lanjutkan penyebab bangkrutnya bisnis yang kedua, sebaiknya kita baca kembali sifat manusia dalam Qur’an disini dan harus kita ingat baik-baik untuk menjaga karakter kita sebagai manusia, sebagai pebisnis dan sebagai pemimpin rumah tangga.

Salam Kaya tapi Taqwa | wiyoko corporation



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *