Kita semua tahu bahwa stres yang berlebihan adalah bahaya kesehatan. Sering diistilahkan sebagai “Burnout” yang mempengaruhi kinerja seseorang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Stres membuat orang hampir tiga kali lebih mungkin meninggalkan pekerjaan mereka, di sisi lain dapat mengganggu pemikiran strategis, dan menumpulkan kemampuan kreatif. Burnout merupakan ancaman bagi kemajuan sebuah perusahaan yang jika dihitung-hitung bisa menghabiskan lebih dari US $ 300 miliar per tahun karena ketidakhadiran, pergantian, produktivitas yang menurun, biaya medis, hukum, dan asuransi yang berkaitan dengan karyawan yang mengalami masalah ini.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Semakin banyak perusahaan menyadari hal ini maka semakin banyak kepedulian tentang kesehatan di tempat kerja mulai diperhatikan. Tapi prasarana dan sarana penunjang seperti gym di tempat kerja dan waktu tidur siang bukan jawaban untuk masalah ini. Dalam sebuah studi baru-baru ini, para peneliti menemukan fakta bahwa walaupun ada harapan bahwa program kesehatan akan mengurangi pengeluaran perawatan kesehatan dan absensi dalam satu atau dua tahun, tapi nyatanya hal ini tidak terlalu berpengaruh. Studi ini menunjukkan bahwa program seperti itu tidak seefektif yang kita pikirkan.

Pengusaha dan pemimpin tim perlu beralih ke pendekatan berbeda untuk mengurangi stres di tempat kerja yang meningkatkan kesejahteraan karyawan sambil secara bersamaan meningkatkan kinerja bisnis. Meskipun ini mungkin tampak tidak realistis, tapi nyatanya tidak juga. Pencegahan kelelahan membutuhkan pengurangan stres di tempat kerja sambil juga meningkatkan keterlibatan karyawan. Inilah cara melakukan keduanya.

 

1. Ciptakan Lingkungan Kerja yang Mengurangi Stres

Ketika karyawan berada dalam situasi stres tinggi seperti harapan yang tidak jelas, tenggat waktu yang tidak masuk akal, atau ruang kerja yang terlalu sibuk, akan memungkinkan mereka pindah ke mode “Fight or Flight”. Ini adalah sesuatu yang terjadi pada tubuh kita ketika kita merasa terancam. Bagian-bagian terpenting dari otak kita mengambil alih dan kemampuan kita untuk berpikir jangka panjang, menyusun strategi, dan berinovasi menjadi berkurang. Jika kita bertahan dalam mode ini terlalu lama, pada akhirnya kita akan kehabisan tenaga. Untuk mengatasi efek ini, maka Anda perlu membangun lingkungan kerja yang aman dan memasukkan kebiasaan pengurangan stres ke dalam alur kerja harian tim Anda.

 

2. Tingkatkan Keamanan Psikologis

Jika karyawan Anda menganggap tempat kerja Anda sebagai ancaman, maka Anda tidak dapat membangun kepercayaan yang dibutuhkan tim Anda untuk berkolaborasi dan berinovasi secara efektif. Dalam bukunya, The Fearless Organization, Amy Edmondson menjelaskan tiga langkah yang dapat Anda ambil untuk membangun keamanan psikologis. Pertama, buat harapan Anda jelas dengan memberikan tujuan yang jelas kepada karyawan Anda. Kedua, pastikan semua orang merasa suara mereka didengar, dan bahwa semua orang tahu bahwa Anda ingin suara mereka didengar. Anda dapat melakukan ini dengan mengundang orang untuk berbicara dalam rapat dan melakukan sesi brainstorming ketimbang Anda memaksakan keputusan top-down. Ketiga, kembangkan lingkungan kerja yang menantang dan tidak mengancam. Beri tahu bahwa gagal adalah hal yang baik. Kenali anggota tim yang berpikir out of the box, dan minta umpan balik dari karyawan Anda secara teratur untuk menunjukkan Anda semua ada di dalamnya bersama-sama.

 

3. Bangun waktu istirahat reguler di hari kerja

Otak manusia dapat fokus sekitar 90-120 menit sebelum perlu istirahat. Itu sebabnya Anda harus mendorong karyawan Anda untuk menjauh dari meja mereka dan secara mental melepaskan diri dari tugas-tugas yang menantang setiap beberapa jam. Sarankan mereka pergi berjalan-jalan dekat, terutama jika mereka telah melakukan serangkaian pertemuan panjang, mengingatkan mereka untuk beristirahat, dan mencoba memimpin dengan memberi contoh. Membiarkan pikiran mereka beristirahat dan menggerakkan tubuh mereka akan memberi tim Anda ruang mental yang mereka butuhkan untuk tampil baik secara konsisten.
Dorong penggunaan ruang kerja pribadi ketika anggota tim perlu fokus. Kantor yang terbuka rentan terhadap gangguan, meningkatkan stres dan mengurangi produktivitas. Terkadang ada anggapan bahwa karyawan harus selalu ada untuk rapat dan diskusi dadakan dari tata letak kantor yang terlalu terbuka. Jika Anda tidak memiliki ruang kerja pribadi untuk karyawan bisa fokus pada pekerjaannya, maka coba gunakan sinyal seperti tanda “jangan ganggu” saat dibutuhkan, atau penjadwalan “jam tenang” ketika orang dapat bekerja.

 

4. Tetapkan batas waktu di luar pekerjaan

Tim yang tidak semuanya berada di satu lokasi mungkin perlu bekerja di luar jam konvensional dari waktu ke waktu. Namun, bias antara waktu kerja dan waktu pribadi merupakan sumber stres kerja yang signifikan. Sebuah penelitian menemukan bahwa tidak hanya menjawab email yang meningkatkan kecemasan karyawan namun ini juga merupakan anggapan bahwa mereka akan selalu ada untuk melakukannya meski di luar jam kerja. Untuk mengatasi ini, tetapkan pedoman yang jelas dan ikuti mereka. Kirim email dan lakukan panggilan hanya jika keadaan mendesak.

 

5. Kebijakan kerja yang fleksibel

Jika Anda menginginkan tim yang sangat adaptif, maka ciptakan lingkungan kerja yang bisa beradaptasi. Berikan keleluasaan karyawan Anda dengan membiarkan mereka bekerja berjam-jam, dengan mempertimbangkan beragam kebutuhan mereka. Adakan pertemuan tatap muka untuk memahami kebutuhan-kebutuhan itu dan temukan alternatif agar terjadi keseimbangan dalam dunia kerja.

 

Menjaga kesehatan mental tim Anda dan karyawan lainnya menjadi poin penting bagi Anda untuk terus bisa tumbuh dan memajukan perusahaan. Tidak hanya sekedar prasarana dan sarana yang memadai, tapi memahami apa yang mereka butuhkan dan penyebab stress adalah hal yang perlu digaris bawahi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *